Article

Don't Hate The Game: Crowdsourcing Dilemma

Istilah crowdsourcing ini pertama kali dikenal pada tahun 2006 yang didefinisikan oleh Merriam-Webster sebagai proses dalam mendapatkan sebuah jasa, ide, ataupun konten yang dibutuhkan dengan meminta kontribusi dari sekelompok besar orang, khususnya lebih kepada komunitas online. Sebenarnya proses ini sudah lama ada dan telah diterapkan semenjak dahulu kala, yaitu kontes atau sayembara. Dengan maraknya internet sebagai medium sosial yang semakin mempermudah kehidupan kita, dalam hal ini kontes desain (Seringnya desain logo) juga semakin sering diadakan dan diperkenalkan secara online.

Sepanjang tahun 2016 ini, cukup banyak sayembara desain logo yang diselenggarakan. Sayembara ini ditujukan bagi masyarakat umum, siapapun bebas mengirimkan desain dalam sayembara yang diselenggarakan oleh berbagai pihak seperti kementrian, pemkot, BUMN, bahkan instansi swasta. Menariknya, beberapa sayembara ini tidak membatasi jumlah desain yang diajukan maupun jumlah pesertanya, biarpun tetap hanya 1 karya/peserta yang biasanya terpilih untuk keluar sebagai pemenang.

Hadiah yang ditawarkan sayembara ini juga sangat bervariatif, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Namun, tidak selalu dalam bentuk uang, hadiah pun bisa berupa sebuah penghargaan. Sebagai contoh, sayembara desain logo dan nomor balap Rio Haryanto yang diselenggarakan pada Maret 2016 lalu. Berbeda dengan sayembara lainnya, manajemen Rio Haryanto akan memasang logo karya pemenang di mobil tim F1 Rio Haryanto (yang akan berlaga di beberapa kota di dunia) sebagai bentuk penghargaan kepada pemenang.

Pihak penyelenggara kontes memiliki beragam motivasi atau tujuan mengapa crowdsourcing menjadi pilihan mereka dalam menciptakan desain atau logo baru. Seperti halnya Pemerintah Pekalongan, mereka mengharapkan adanya partisipasi publik dalam memunculkan ide dan gagasan baru bagi perubahan lambang daerah tersebut. Ada pula sayembara desain logo yang bertujuan untuk memotivasi para pelajar dalam berkompetisi dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari seperti pada sayembara desain logo OSN (Olimpiade Sains Nasional), mengajak generasi muda untuk mengeksplorasi skill desain mereka, dan beragam tujuan lain yang bersifat positif.

lembaga-baru-pemerintahan-pekalongan

Lambang Baru Pemerintah Pekalongan
Sumber: upload.wikimedia.org
Kami melihat kreatifitas anak muda Indonesia saat ini, utamanya di bidang desain grafis semakin berkembang. Terlihat melalui hasil karya-karya yang mereka ciptakan berhasil menginterpretasikan makna dan semangat yang tercermin dalam logo dari berbagai event secara korporasi maupun individu. Keberhasilan creative design ini dirasakan sangat mendukung dalam menentukan perspektif citra dan reputasi perusahaan di masyarakat dalam menjalankan proses bisnisnya.

Wianda Pusponegoro - VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), dikutip dari www.pertamina.com

Tidak dapat dipungkiri bahwa peranan internet dan dunia digital semakin mempermudah proses sayembara desain ini sehingga lebih memungkinkan banyaknya karya yang masuk dari desainer di seluruh pelosok bumi. Contohnya, dalam sayembara desain logo dan nomor balap Rio Haryanto, peserta dipersilakan mengunggah karya-karyanya ke dalam kolom komentar akun facebook resmi manajemen Rio Haryanto. Demikian halnya dengan sayembara desain logo HUT ke 59 PT Pertamina yang kini ramai dibicarakan, mereka memberikan kebebasan bagi peserta untuk mengunggah karya dalam situs yang telah mereka sediakan

sayembara-1

sayembara-2

sayembara-3

Beberapa Karya Desain Pada Sayembara Desain Logo dan Nomor Balap Rio Haryanto
Sumber: www.sportsatu.com

Namun agaknya, tak sedikit yang menilai bahwa sayembara desain logo seperti ini justru tidak akan menguntungkan pihak manapun, baik peserta maupun pihak penyelenggara. Misalnya dalam sayembara HUT ke 59 PT Pertamina kali ini, banyak pihak menyayangkan keputusan perusahaan energi terbesar di Indonesia tersebut menyelenggarakan sayembara desain logo. Ada yang berkata bahwa hadiah yang diberikan jumlahnya sedikit, sikap PT Pertamina yang tidak menghargai profesi desainer grafis, dan lain-lainnya.

Hal ini diungkapkan secara langsung oleh DGI (Desain Grafis Indonesia) sebagai salah satu forum terbesar bagi para desainer grafis Indonesia. DGI berpendapat melalui akun facebooknya bahwa mereka menolak untuk mendukung adanya sayembara desain logo secara umum. Tidak hanya DGI, sejumlah media seperti Kompas pun sempat mengkritisi sayembara tersebut melalui sebuah video yang diunggah dalam akun facebook mereka.

Kerja spekulatif seperti sayembara logo merupakan salah satu praktik parasitik yang menghambat tumbuhnya industri desain grafis yang sehat. Percayalah, tak ada pihak yang diuntungkan dari model kerja semacam ini. Tak hanya desainer grafis, klien pun juga merugi. Belum lagi masyarakat luas yang menjadi 'pengguna akhir' produk desain grafis yang dihasilkan lewat proses kerja yang spekulatif semacam ini. Karenanya, kami menolak mendukung sayembara logo. Kamu bagaimana?

DGI - Forum Desainer Grafis Indonesia, dikutip dari Facebook

Lantas, apakah hal ini salah? Perlu digarisbawahi bahwa sebagian besar sayembara desain memang tidak diprioritaskan bagi desainer profesional, karena selain unsur spekulatifnya yang tinggi dan juga nilai hadiah yang relatif kurang menarik (dibandingkan dengan tingkat kemungkinannya yang rendah). Namun sayembara atau kontes desain semacam ini adalah sebuah ajang dimana para desainer muda berkesempatan untuk belajar dan mempraktekkan ilmu desain yang mereka miliki.

Ada beberapa hal positif dari kontes atau sayembara (crowdsourcing) desain ini. Beberapa diantaranya adalah amannya reputasi disaat gagal terpilih menjadi juara, lain halnya dengan project desain dari klien yang tentunya akan berdampak bagi reputasi kita disaat gagal dalam menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Berikutnya adalah, minimal beban biaya karena sebagian besar sayembara desain yang diadakan umumnya tidak memungut entry fee/biaya daftar. Yang terakhir, pengalaman dan pengetahuan. Hal ini merupakan penghargaan yang luar biasa dan tidak ternilai bagi desainer muda yang sedang meningkatkan ilmu dan kemampuannya, dengan mencoba berkali-kali, dan saling menginspirasi karya satu dengan yang lainnya.

Don't hate the game, hate the player! Penyelenggaraan sayembara seperti ini sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang kita. Ini menandakan bahwa tidak ada yang salah dengan mekanisme sayembara tersebut. Yang ada hanyalah pihak-pihak penyelenggara maupun pesertanya yang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Contohnya, pihak penyelenggara sering mengambil keuntungan dengan memanfaatkan hasil karya yang terkumpul untuk keuntungan sepihak dengan tidak memberikan penghargaan yang setimpal atau kesempatan yang adil pagi peserta yang berpotensial. Sama halnya dengan peserta, terkadang mereka terlalu mengharapkan lebih namun tidak melakukan upaya yang sesuai. Itulah yang merusak citra sayembara seperti ini, khususnya sayembara desain.

Irvan Subekti - IS Creative

Sederhananya, jika materi atau nilai uang yang dicari, sayembara atau kontes bukanlah pilihan yang tepat. Namun jika pengalaman, kemampuan, dan peluang yang dicari, maka sayembara atau kontes adalah jawabanmu! Just take it, or leave it! Negativity only makes you look like an amateur!

Permalink

Loading...

IS Creative

About the author

IS Creative

IS Creative adalah sebuah agensi kreatif multi-disiplin yang fokus kepada komunikasi visual, desain identitas brand/merek, dan juga multimedia. Kami telah membantu banyak klien-klien untuk mencapai tujuan bisnis mereka dan meningkatkan kualitas citra brand/merek mereka dalam berbagai macam hal. IS Creative selalu berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas pada setiap proyek kami.