Article

Building a Brand on Fictional Story. Fake but Real?

Film adalah salah satu industri showbiz yang mengalami pasang surut selama kurun waktu satu dekade terakhir, khususnya di Indonesia. Masih teringat betapa antusiasnya masyarakat Indonesia di tahun 2008 ketika film Laskar Pelangi begitu diminati, hingga kemudian berangsur menurun sejalan dengan banyaknya film yang mendadak homogen.

Hal ini juga terjadi pada industri film Hollywood. Hollywood sebagai kiblat perfilman dunia banyak membuat film dengan genre serupa, namun dikemas secara kreatif sehingga akan melekat di benak para penontonnya. Keseriusan dalam menonjolkan detail pendukung sebuah film secara tidak langsung adalah cara mereka untuk memaksimalkan ide cerita dan menumbuhkan sisi emosional audience. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun sebuah brand perusahaan fiktif pada cerita mereka guna memberikan kesan nyata pada film tersebut.

Kali ini, IS Creative akan membahas 5 branding perusahaan fiktif yang diterapkan pada beberapa film terkenal, yang dibuat sedemikian rupa layaknya perusahaan sungguhan. Perusahaan fiktif (yang sering muncul secara konsisten pada scene film) ini bahkan benar-benar memiliki logo, profile, karakter/image perusahaan layaknya brand pada umumnya.

1. Acme Corp. (Looney Tunes)

 

Gambar 1. Logo Acme Corporation
Sumber: www.looneytunes.wikia.com

Acme adalah perusahaan fiksi yang seringkali muncul di berbagai film kartun dan TV seri Looney Tunes, terutama kartun Road Runner/Wile E. Coyote. Dalam ceritanya, perusahaan yang dipimpin oleh Marvin Acme ini tidak pernah mendefinisikan secara jelas tentang produk yang dihasilkan, namun kebanyakan adalah produk senjata, mesin, dan bahan-bahan kimia peledak canggih yang kadang tidak masuk akal.

 

Gambar 2. Produk Acme pada serial kartun Road Runner/Wile E. Coyote
Sumber: www.geeksofdoom.com

 

Gambar 3. Produk-produk imaginary dari Acme
Sumber: www.ohgizmo.com

 

Gambar 4. Produk Acme Iron Lung di film Space Jam
Sumber: Space Jam (Warner Bross)

 

Gambar 5. Gedung Acme pada film Who Framed Roger Rabbit
Sumber: www.wikipedia.org/wiki/Acme_Corporation

Meskipun logo yang sering muncul hanya berupa tulisan, namun karakternya yang 'mampu membuat segala macam produk' menarik penonton sebagai suatu hal yang lucu, unik, bahkan konyol. Nama Acme sendiri diambil dari bahasa Yunani yang artinya puncak atau prima. Ironisnya produk buatan Acme sendiri seringkali mengalami kegagalan saat digunakan atau tidak berfungsi dengan baik. Citra produknya yang tidak masuk akal, konyol, ironis dan sering gagal inilah yang justru menjadi karakteristik perusahaan Acme.

2. Wayne Enterprises (Batman)

 

Gambar 6. Wayne Corp HQ
Sumber: wayne-enterprises.co

Wayne Enterprises yang juga dikenal dengan sebutan WayneCorp adalah perusahaan fiksi yang muncul pada film superhero DC Comics, Batman. WayneCorp dipimpin oleh Bruce Wayne, yang juga merupakan tokoh Batman itu sendiri. Meskipun hanya sebuah perusahaan fiksi, WayneCorp memiliki jajaran direktur dan beberapa divisi layaknya perusahaan nyata.

 

Gambar 7. Logo Wayne Enterprises
Sumber: dccomicsextendeduniverse.wikia.com

DC Comics juga melakukan branding dalam bentuk visual, mulai dari adanya logo dengan berbagai macam versi di beberapa seri filmnya, dan menampilkannya di mobil perusahaan, hingga stationery. Upaya keseriusan branding tersebut, seakan 'membawa' imajinasi penonton untuk berfikir bahwa perusahaan tersebut sungguh ada keberadaanya.

 

Gambar 8. Logo Wayne untuk badge dan stationery
Sumber: Batman Vs Superman: Dawn Of Justice (DC Entertainment)

3. Stark Industries (Iron Man)

 

Gambar 8. Logo Stark Industries
Sumber: marvel.wikia.com

Seperti Acme, perusahaan fiksi yang bergerak di bidang teknologi canggih ini tidak hanya ditampilkan pada film Iron Man saja, namun juga di beberapa film dan seri komik Marvel lainnya, contoh The Avenger, Spiderman; Homecoming, dan Captain America

 

Gambar 9. Stark Tower pada film The Avenger
Sumber: www.disney.wikia.com

Stark Industries sangat menonjolkan kemegahan gedung dan kecanggihann teknologi yang dikembangkan didalamnya. Seperti layaknya perusahaan yang nyata, branding dilakukan sedemikian rupa untuk meyakinkan penonton bahwa Stark Industries adalah 'sebuah' perusahaan sungguhan.

 

Gambar 10. Blueprint Mark 6 yang dikembangkan Stark Industries
Sumber: www.herochan.com

Di beberapa scene film Iron Man dan The Avenger, gedung dan logo perusahaan beberapa kali ditampilkan, begitu juga dengan stationery pendukung lainnya. Penggunaan perangkat komunikasi dengan teknologi hologram juga memberi kesan futuristik dan kecanggihan Stark Industries.

4. Monster Inc. (Monster Inc.)

 

Gambar 11. Salah satu adegan film animasi Monster Inc.
Sumber: Monster Inc. (Walt Disney Picture, Pixar Animation Studios)

Perusahaan yang menghasilkan energi dari teriakan ketakutan anak-anak manusia, itulah yang dilakukan Monster Inc. Logo huruf M berwarna biru dengan simbol mata satu ditengah menjadi identitas pabrik yang semua pegawainya adalah monster warna-warni yang lucu dan menyeramkan.

 

Gambar 12. Dokumen dengan logo perusahaan
Sumber: Monster Inc. (Walt Disney Picture, Pixar Animation Studios)

 

Gambar 13. Employee ID
Sumber: www.pinterest.com

Branding banyak dilakukan pada film animasi buatan Disney Pixar Studio ini. Hal ini menunjukan bahwa Disney ingin membangun kesan bahwa perusahaan energi tersebut beroperasi selayaknya perusahaan energi di dunia nyata. Pada beberapa scene terlihat logo Monster Inc di gedung, lobby, topi proyek, dan beberapa stationery pendukung lainnya yang digunakan. Bahkan, jabatan dari setiap karakternya juga dijabarkan dan disesuaikan dengan ide cerita.

5. Umbrella (Resident Evil)

 

Gambar 14. Logo Umbrella Corporation
Sumber: www.residentevil.wikia.com

 

Gambar 15. Sistim navigasi target Umbrella Corp
Sumber: lh3.googleusercontent.com

Menurut cerita didalam film Resident Evil, Umbrella Corps dikenal sebagai sebuah perusahaan farmasi terkemuka di Raccon City. Tanpa diketahui oleh masyarakat, Umbrella Corps sebenarnya adalah perusahaan yang membuat dan memasok persenjataan biologi berupa virus dan melakukan modifikasi genetika secara ilegal. Berapa scene menampilkan logo dari perusahaan yang berbentuk seperti payung berwarna merah dan putih tersebut sebagai bentuk branding yang ingin dibangun.

 

Gambar 16. Salah satu scene pada film Resident Evil
Sumber: Resident Evil (Constantin Film)

 

Gambar 17. Logo Umbrella Corps yang berada di ruang rapat
Sumber: Resident Evil (Constantin Film)

Meskipun tidak dijelaskan secara detail mengenai penggunaan objek berupa payung (umbrella) sebagai nama perusahaan dan logo, namun salah satu sumber mencoba menjabarkan filosofi warna merah dan putih logo Umbrella Corp. Di Jepang dan negara Asia lainnya, dua warna ini memiliki makna yang spesifik seperti merah yang diartikan sebagai warna kehidupan, dan putih yang dianggap sebagai warna kematian. Produk senjata dan virus yang diproduksi oleh Umbrella sangat identik dengan kematian, sedangkan produk lain yang dihasilkan dibidang farmasi seperti obat-obatan identik dengan penyembuhan dan kehidupan. Secara umum, hal yang sangat kontradiksi ini bisa sangat sesuai dengan motif Umbrella Corp.

Meskipun tujuan utama dari branding perusahaan fiktif dilakukan untuk mendukung ide cerita, namun secara tidak langsung hal tersebut bisa membangun karakteristik dan ciri khas dari film itu sendiri. Beberapa diantaranya bahkan dibuat sangat serius dengan mempertimbangkan dari filosofi, nama, visual, dan susunan direksi yang sengaja dibuat sedemikian rupa, layaknya proses branding yang dilakukan pada perusahaan di dunia nyata.

Hal ini membuktikan betapa pentingnya branding diterapkan di beberapa bidang usaha, termasuk pada perusahaan yang tidak nyata sekalipun. Strategi dan konsep yang tepat adalah kunci keberhasilan apakah branding yang dilakukan di dalam film bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat atau tidak. Oleh karenanya, research menjadi salah satu tahapan penting yang harus dilakukan sebelum memasuki proses branding. Hal ini juga diyakini oleh tim IS Creative. Rencana dan persiapan yang akurat dilakukan oleh tim desainer guna memudahkan eksekusi ketika branding mulai diaplikasikan pada perusahaan. Selanjutnya, dengan bantuan media sosial untuk memperluas jangkauan, branding yang dieksekusi dengan cermat akan sampai ke target yang tepat.

Kamu tahu brand dalam film/serial TV lainnya yang belum masuk dalam artikel ini? Tulis di kolom komentar di bawah ini yuk, Sobat Idealist!

Permalink


IS Creative

About the author

IS Creative

IS Creative adalah sebuah agensi kreatif multi-disiplin yang fokus kepada komunikasi visual, desain identitas brand/merek, dan juga multimedia. Kami telah membantu banyak klien-klien untuk mencapai tujuan bisnis mereka dan meningkatkan kualitas citra brand/merek mereka dalam berbagai macam hal. IS Creative selalu berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas pada setiap proyek kami.