Article

5 Taboo Things a Graphic Designer Does

Di era digital saat ini, semakin banyak generasi muda yang berkecimpung di industri kreatif. Seperti graphic designer, social media specialist, video editor, event organizer, dan lain-lain. Masing-masing profesi tersebut tentu memiliki tantangan dan hal-hal yang sangat krusial untuk tidak dilakukan atau yang kita sebut dengan istilah tabu.

Kenapa tabu? Menurut KBBI, definisi dari tabu yaitu suatu hal yang dianggap suci (tidak boleh disentuh, diucapkan, dan sebagainya); pantangan; larangan. Maka, jika diartikan secara harafiah, tabu adalah hal-hal yang tidak boleh/pantang untuk dilakukan.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas pantangan bagi kaum Idealist yang bergelut di industri kreatif, khusunya sebagai graphic designer. Mengingat sebagai graphic designer kita dituntut untuk mengasah kreatifitas dan integritas demi menunjang profesionalisme kerja. Simak hal-hal tabu berikut ini agar kita terhindar dari image buruk karena sering melakukannya.

1. Menanyakan tentang penawaran harga pekerjaan dari desainer lain/sebelumnya kepada klien

Melakukan survei harga dengan bertanya langsung kepada desainer lain merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Hal ini bertujuan agar kita mengetahui apakah penawaran yang kita berikan kepada klien sudah sesuai, tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah. Namun, menanyakan penawaran harga desainer lain/sebelumnya kepada pihak klien adalah hal yang kurang etis untuk dilakukan, karena pastinya setiap desainer memiliki value/nilai yang berbeda.

Hal tersebut juga dapat menjadi bumerang, karena bisa saja pihak klien menyebutkan harga yang tidak sewajarnya dan menjadikan angka tersebut sebagai parameter untuk menawar nilai jual kita.

Sumber: www.pexels.com

2. Memberikan penawaran harga yang tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

Sebagai seorang desainer, pasti kita menginginkan karya kita dihargai secara maksimal. Tetapi juga harus diingat, harga yang kita tawarkan seharusnya sebanding dengan nilai/value karya yang kita buat. Hal tersebut dipertimbangkan dengan melihat teknik yang digunakan, mengukur skill desain yang dimiliki, pengalaman, serta pengetahuan yang kita gunakan ketika membuat suatu karya.Kaum Idealist perlu tahu, bahwa seberapa tinggi klien membayar sebuah karya sama dengan seberapa besar mereka menghargai karya tersebut. Jadi, jangan sampai ada yang namanya desain gratis ya! Yang ada hanyalah karya yang tidak dihargai.

Sumber: americangraphixsolutions.com

3. Menyebarkan informasi/data penting klien yang dianggap rahasia

Prinsip utama dalam menjalin sebuah hubungan baik dalam berbisnis adalah rasa percaya. Maka, jika seorang desainer membocorkan informasi penting/rahasia klien kepada pihak lain, sama artinya dengan mengkhianati kepercayaan yang sudah terbangun. Hal ini dapat berdampak fatal bagi citra kita sebagai seorang desainer lho. Terlebih lagi karena yang kita jual sebagai seorang desainer adalah jasa, keterpercayaan dan integritas diri merupakan aspek penilaian yang cukup vital dari sudut pandang klien.

Sumber: pexels.com

4. Melakukan tindakan plagiat

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010 dikatakan:

“Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), disebutkan:

“Plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat) sendiri”.

Tindakan plagiat haram dilakukan seorang desainer. Karena selain melanggar etika, hal ini juga dapat merugikan pihak lain, dan konsekuensi terburuknya, itu juga dapat menghancurkan nama baik sendiri sebagai desainer.

Bayangkan saja, saat kita melakukan plagiat dan mengakui hasil karya orang lain, dan ternyata klien mengetahui tindakan tersebut. Maka bukan kerja sama yang kita dapat, melainkan citra diri yang menjadi buruk dan menjauhkan calon klien yang seharusnya memiliki prospek kerja sama dengan kita di masa yang akan datang.

Selain itu, bagaimana perasaan kita jika ada di posisi korban plagiatnya? Saat kita telah susah payah mencari ide dan membangun sebuah desain dari nol, namun tiba-tiba seseorang mencuri dan mengakuinya sebagai hasil karyanya dan berhasil mengelabui klien. Miris bukan? Jadi, sebelum melakukan tindakan plagiat, ingat-ingat risikonya ya.

Sumber: papasemar.com / www.hipwee.com

5. Menolak untuk melakukan revisi atau tidak mempertimbangkan usulan klien

Revisi adalah salah satu langkah yang paling berharga dalam proses membuat sebuah desain. Kenapa disebut paling berharga? Karena dalam proses ini, kita akan lebih mengenal kualitas dan karakter sebagai seorang desainer. Tentang bagaimana menghadapi kritik dan seberapa terbukanya seorang desainer menerima masukan. Namun tentu saja revisi dilakukan setelah melakukan beberapa pertimbangan dan diskusi dengan klien.

Jika proses revisi ini berjalan dengan lancar. Maka, klien dan desainer akan lebih saling menghargai satu sama lain. Jadi, siap-siap saja untuk project selanjutnya ya.

Sumber: mytutor.co.uk / www.dundonaldhigh.co.uk

Lima hal di atas adalah kebiasaan buruk yang harus dihindari oleh seorang desainer. Tapi, sebelum kita akhiri artikel menarik ini, ada satu hal lagi yang tabu untuk kita lakukan:

Menerima pekerjaan yang mengandung konten/unsur berbau provokasi, hoax, dan SARA
Provokasi, hoax, dan SARA tentunya dapat memicu perpecahan. Apalagi dengan kondisi masyarakat Indonesia seperti sekarang ini. Jadi, seorang desainer seharusnya ikut memiliki tanggung jawab untuk menciptakan komunikasi visual yang positif, berbobot, dan berwawasan.

Karena saat ini kita telah memasuki momen Pemilu 2019, saat Pemilu nanti, mari memilih pemimpin yang akan membawa Indonesia lebih baik lagi untuk 5 tahun kedepan. Jadi jangan sampai kita ikut memperkeruh keadaan dengan provokasi dan konten yang menyinggung pilihan politik orang lain.

Sumber: www.kricom.id / www.alinea.id www.alinea.id
Permalink

Loading...

IS Creative

About the author

IS Creative

IS Creative adalah sebuah agensi kreatif multi-disiplin yang fokus kepada komunikasi visual, desain identitas brand/merek, dan juga multimedia. Kami telah membantu banyak klien-klien untuk mencapai tujuan bisnis mereka dan meningkatkan kualitas citra brand/merek mereka dalam berbagai macam hal. IS Creative selalu berusaha sebaik mungkin untuk menghasilkan karya-karya yang unik dan berkualitas pada setiap proyek kami.